Tampilkan postingan dengan label ANGKATAN UDARA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ANGKATAN UDARA. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Juni 2016

Anggota DPR : Kalau Ada yang Lebih Bagus dari Sukhoi Su-35, Bisa Diubah

01 Juni 2016


Pesawat Sukhoi T-50 PAK-FA secara teknologi lebih bagus dari Su-35, bahkan memakai jenis mesin yang sama yaitu Saturn AL-31, namun masih belum dijual oleh Rusia (photo : 61ee)


BANDUNG, KOMPAS.com - Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, TB Hasanuddin mengatakan, Indonesia belum pasti membeli 10 unit pesawat tempur jenis Su-35 (NATO: Flanker-E) buatan Sukhoi dari Rusia.

"Kalau mungkin ada yang lebih bagus dari Sukhoi, lebih murah dan secara politis lebih baik, ya bisa jadi diubah," ujar Hasanuddin saat ditemui di Kompleks Universitas Padjajaran, Bandung pada Selasa (31/5/2016).

Hasanuddin mendapat informasi bahwa Indonesia dan Rusia masih terus berkomunikasi soal rencana pembelian itu. Pembelian pesawat tersebut belum final.

Jika mengubah pilihan pesawat tempur, TB menampik disebut telah mengabaikan keinginan TNI. Ia sekaligus membantah TNI ngotot ingin membeli Sukhoi tersebut.

"Tidak juga. TNI juga punya alternatif lain kok. Pertama itu memang Sukhoi, kedua ini, ketiga ini. Jadi tidak soal jika diubah," ujar dia.

Meski demikian, ia menolak menyebutkan apa pilihan lain selain Sukhoi.

Ia mengatakan, masih menghormati komunikasi antara pemerintah Rusia dan Indonesia soal rencana pengadaan Sukhoi tersebut.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengonfirmasi bahwa pemerintah Indonesia berniat membeli 10 unit pesawat tempur jenis Su-35 buatan Sukhoi dari Rusia.

Proses pembelian pesawat tempur tersebut masih dalam pembahasan. (Baca: Kemenhan Masih Kaji Rencana Pembelian Sukhoi )

Ryamizard juga menjelaskan bahwa pembelian kesepuluh Su-35 untuk TNI-AU tersebut tidak akan dilakukan sekaligus, melainkan secara bertahap.

(Kompas)

Kamis, 23 Juni 2016

Use Of MIG-29N Fighter Aircraft being Reduced

02 Juni 2016

RMAF MiG-29N (photo : worldavia)

KUANTAN (Bernama) -- The use of the MIG-29N fighter aircraft will be reduced following increasing operating expenses, said Royal Malaysian Air Force (RMAF) chief, Tan Sri Roslan Saad.

He said apart from that, the capabilities of the fighter aircraft were also getting more limited as the aircraft have been in service for 21 years since they were first used in 1995.

"We have been reducing the use of the aircraft since three years ago and so far there is no time frame as to when the aircraft will be completely phased out," he said.

(Bernama)

Vietnam Minat Beli CN-295 dari Indonesia

03 Juni 2016

Vietnam telah mempunyai 3 pesawat C-295M hasil pembelian langsung ke Airbus Military, Spanyol (photo : Long Ethan)

Kuala Lumpur (ANTARA News) - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan bahwa Vietnam berminat membeli pesawat jenis CN-295 yang diproduksi PT Dirgantara Indonesia. Ini adalah pesawat terbang militer yang bisa dijadikan pesawat terbang komuter sipil terbaru yang ada dalam daftar inventori PT Dirgantara Indonesia. 

TNI AU telah memiliki sebarisan CN-295 (C-295 menurut nomenklatur yang diberikan Airbus Military sebagai perusahaan pembuat asal/pemegang lisensi), yang dimasukkan ke dalam Skuadron Udara 2, yang ditempatkan di Pangkalan Udara Utama Halim Perdanakusuma, Jakarta. 

Pesawat terbang turboprop yang lisensi produksinya dipegang Airbus Military ini bisa dikatakan sekelas dengan A-27 Spartan buatan Alenia, Italia). 

"Tadi kami melanjutkan pembicaraan rencana pembelian CN-295," ujar Kalla, seusai bertemu bilateral dengan Wakil Perdana Menteri Vietnam, Trinh Dinh Dung, di sela World Economic Forum on ASEAN 2016, di Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis.

Namun Kalla tidak menjelaskan secara teknis tentang rencana pembelian pesawat tersebut, termasuk mengenai jumlah unit. Selama ini TNI AU dan TNI AL memesan sejumlah CN-235 dari PT Dirgantara Indonesia; salah satunya seturut kontrak pembelian yang ditandatangan pada penghujung dasawarsa '90-an. 

Negara-negara yang telah memesan CN-235 di antaranya Korea Selatan dan Brunei Darussalam.  

Perdagangan beras dari Vietnam ke Indonesia juga dibicarakan dalam pertemuan tersebut. 

Dalam pertemuan tersebut, Kalla juga menyampaikan pandangan Indonesia yang sama dengan Vietnam dalam sengketa wilayah perairan Laut China Selatan.

Walau pernah beberapa kali terjadi gesekan di laut antara Indonesia dan China di perairan kedaulatan Indonesia di Laut Natuna, Indonesia tidak termasuk negara yang mengklaim wilayah perairan yang disengketakan Vietnam, Malaysia, Filipina, Taiwan, dan China itu. 

Sementara itu, seusai mengikuti WEF on ASEAN di Kuala Lumpur pada 1-2 Juni 2016, Wapres dan Ibu Mufidah Jusuf Kalla beserta rpmbongan langsung bertolak menuju Tanah Air.

Sebelum melakukan pertemuan bilateral dengan Trinh, Kalla bertemu dengan petinggi Amnesty International.

(Antara)

Su-27/30 : Vietnam will Repair Them at Home

05 Juni 2016

Su-30MK2 fighter in Factory A32, Da Nang  (photo : QPVN)

Defense website reported Russian VPK Vietnam will repair and upgrade the Su-27 fighters, Su-30 at the new plant in Danang.

Day 3/6, VPK website of the Russian Defence published the article titled "Su 27/30: Vietnam will repair itself in the country".

Accordingly, Vietnam is building capacity for maintenance, repair basic fighter Su-27 and Su-30, to escape from sending aircraft abroad.

To implement this program, Vietnam has recently launched a defense plant in Danang A32.

"The repair of domestic aircraft upgrades will significantly increase the operational readiness of fighters," the source said.

According VPK, as of this moment, Vietnam Air Force was equipped with 12 injection and 4 consolation Su-27 fighter Su-30MK2V. In 5/2009, a new contract for the supply of 12 new aircraft manufactured by Russia was signed.

Previously, the plant has sent tens A32 staff to overseas training. Currently, the plant has successfully yourself repair failures of modern fighters. Each workshop repairing a technical segment with over 10,000 different components requires careful, precise, meticulous very strict.

(Soha)

Mengintip “Mata” Baru JAS39 Gripen NG

11 Juni 2016

IRST Selex Skyward-G dan radar AESA Selex Raven ES-05 (photo : dunkbear)

Linkoping, Swedia (ANTARA News) - Saat menginjakkan kaki ke dalam hanggar di mana JAS39 Gripen E nomor seri 39-7 berada di samping JAS39 Gripen C, di Linkoping, Swedia, hal yang ada di depan mata langsung bisa mengarahkan pada bagian “hidung” pesawat tempur terkini produksi Saab, Swedia itu. 

Ada yang berbeda di “hidung” yang sebetulnya “tudung” alias radome radar pesawat jet tempur itu. 

“Itu adalah instrumen yang telah kami ‘tanam’-kan pada Gripen E dan F, infra red search and track sebagai penjejak target berbasis elektro optik yang memungkinkan dia meningkatkan kewaspadaan situasionalnya saat bertempur di udara,” kata Kepala Wing Penerbang Saab, Hans Einerth, di hanggar JAS39 Gripen di Linkoping, beberapa waktu lalu. 

Instrumen baru itu bentuknya seperti bola kaca yang cukup mencolok mata, terletak di sisi kanan luar kaca depan kokpit JAS39 Gripen E.


Saab meluncurkan JAS39 Gripen NG yang sebetulnya nama lain dari JAS39 Gripen E/F, namun untuk keperluan domestik Brazil sebagai pengguna terbaru pesawat tempur multiguna-multimisi ini. Tidak tanggung-tanggung, Brasil membeli 36 unit JAS39 Gripen NG lengkap dengan skema transfer teknologinya. 

Pertama kali IRST ini diujicobakan pada JAS39 Gripen E nomor seri 39-7 adalah pada awal April 2014 yang terus-menerus disempurnakan sistemnya. Adapun pabrikan yang dipilih adalah sistem Skyward-G buatan pabrikannya di Nebbiano, Italia, dan dari Selex, yang sama-sama berbasis sistem Passive Infra Red Airborne Track Equipment alias PIRATE, suatu sistem buatan Eurofirst (konsorsium Sales EX, Thales Optronics, dan Tecnobit), yang juga dipakai di Eurofighter Typhoon.

Beda platform alias basis fuselage pesawat terbang yang sangat jelas (Gripen mesin tunggal dan lebih “kecil” ketimbang Typhoon bermesin ganda dan lebih “besar”) bukan halangan untuk menerapkan sistem penjejakan dan kewaspadaan situasional ini. Skyward-G dan Selex sebagai pemasok IRST ini akan bahu-membahu dengan radar aktif AESA (Actively Electronics Scanned Array) Raven ES-05 aktif buatan Selex yang dipasang hingga tiga unit.


“Inilah jawaban kami atas target dengan jejak radar minim sehingga kami bisa mendeteksi mereka,” kata Wakil CEO Saab Group, Lennart Sindahl, dalam penjelasannya secara terpisah kemudian. JAS39 Gripen sejak masih di seri A hingga NG alias E/F memang tidak menganut trend stealth yang kondang dengan bentuk persegi diamond cut-nya. 

Radar AESA Raven ES-05 aktif-nya memang memungkinkan JAS39 Gripen NG menyapu ruang pada sudut 100 derajad ke depan di sekeliling “hidung”-nya. Jika mengandalkan radar berpola kerja forward looking infra red, pilot bisa saja menerapkan taktik mematikan radar untuk mengelabuhi lawan, tetapi pilot bisa lebih mantap dengan misinya setelah menghidupkan sistem PIRATE itu. 

Prinsip kerjanya sebetulnya sederhana saja, yaitu menyapu ruang seluas 100 derajad di depan dalam bentuk konus, mencari dan melacak target dan emisi sinar infra merahnya (yang satu “paket” dengan jejak thermal pancaran gas buang target, apakah itu mesin jet ataupun roket).

IRST, AESA and IFF on Gripen E (photo : Vianney Riller Jr)

Data “temuan” inilah yang secara simultan dikomunikasikan oleh subsistem aspek nonkritis penerbangan di dalam JAS39 Gripen NG, melalui radar AESA Raven ES-05 aktif. 

Bekerja pada pancaran dual band infra merah, yaitu 3-5 dan 8-11 mikrometer, maka kalkulasi penjejakan dan penentuan target dilakukan secara pasif dan bisa diterapkan pada target di darat, laut, ataupun udara. 

Sebagai sistem pasif, IRST tidak memberi kisaran jarak ke target namun memberi data percepatan kinetik yang dihasilkan dari manuver serta perubahan sudut azimuth antara target dan pesawat tempur JAS39 Gripen NG. Jika ini dioperasikan secara simultan pada dua atau lebih JAS39 Gripen NG maka mereka bisa menentukan sudut triangulasi target melalui datalink TAU.

 Bisa dibilang, paduan sistem PIRATE dari Skyward-G dan Selex serta AESA Selex Raven ES-05 itu bisa juga dipakai untuk operasi SAR maritim, jika diperlukan dan diinginkan. 


Laiknya teknologi masa kini maka data hasil bacaan kedua sistem itu (PIRATE dari Skyward-G dan Selex serta AESA Selex Raven ES-05) bisa diubah menjadi tampilan grafis dan dilihat pilot di visor helm khususnya. 

“Prinsipnya adalah tampilkan hanya hal-hal yang Anda perlukan. Kenapa begitu? Karena data yang bisa disajikan sangat amat banyak dan Anda harus memilih data yang sesuai dengan misi Anda. Abaikan yang tidak perlu, serahkan pada sistem komputasi di pesawat tempur. Dia akan melakukannya untuk Anda,” kata Kepala Pilot Uji Saab, Richard Ljungberg. 

Dia katakan itu sesaat sebelum JAS39 Gripen NG diluncurkan di hanggar produksi yang diubah menjadi arena peluncuran laksana panggung opera yang kaya akan tata lampu dan tata suara megah. 

“Cukup aktifkan mode helmet mounted sight dan Anda akan mendapatkan data itu,” katanya. IRST sistem PIRATE dari Skyward-G dan Selex mampu melacak dan menjejaki 200 sasaran berbeda secara simultan secara mode tunggal atau mode jamak (multiple).


Jika sasaran sudah dikenali dan akan dikunci, maka arahkan sapuan IRST Skyward-G dan Selex dan AESA Selex Raven ES-05 itu ke sana, maka kinerjanya akan lebih sehingga akurasi akan semakin meningkat tajam. 

Kegunaan data dari sistem PIRATE Skyward-G dan Selex pada sistem IRST dan AESA Selex Raven ES-05 juga sangat dirasakan dalam praktik dogfight ketat. 

Selain kemampuan tempur dan mengemudikan pesawat tempur, pilot dapat memenangi pertempuran jarak dekat ini dengan bantuan teknologi. Di sinilah penting peran kanon 27 milimeter Mauser BK-27 —kanon standar JAS39 Gripen series— yang dipasang di sisi kiri bawah “hidung” JAS39 Gripen NG. 

Kedua sistem ini (sistem avionik IRST dan AESA plus Mauser BK-27) saling berkomunikasi dan memudahkan pilot untuk membidik dan “mengunci” sasaran yang akan ditembak dengan amunisi seukuran 27 x 145 milimeter berbasis sistem pemantik pyrotechnic high explosive dengan kecepatan 1.100 meter perdetik. 

(Antara)

Php 18,4 Mio for N-22B Nomad Maintenance

11Juni 2016


GAF N-22B Nomad patrol and transport plane (photo : PAF)

PAF to purchase 'Nomad' propulsion system spare parts

MANILA (PNA) -- In line with efforts to ensure the overhaul requirements of all its available aircraft are met on time, the Philippine Air Force (PAF) is allocating the sum of PHP18,412,375 for the acquisition of spare parts needed for the maintenance of the propulsion system of one of its GAF N-22B "Nomad" patrol and transport plane.

Pre-bid conference is on June 15, 9:00 a.m. at the PAF Procurement Center Conference Room, Villamor Air Base, Pasay City.

While submission and opening of bids is on July 7, 9:00 a.m. at the same venue, said PAF bids and awards chair Brig. Gen. Nicolas Parilla.

The "Nomad" is a twin-engined turboprop, high-wing, short takeoff and landing aircraft.

It was designed and built by the Australian Government Aircraft Factories (GAF) at Fishermens Bend, Melbourne.

Major users of the design have included the Royal Flying Doctor Service of Australia, the Australian Army and the Australian Customs Service.

The "Nomad" is to be reengineered and put back into production as the GippsAero GA18.

The PAF has an estimated 20 units of the aircraft in its inventory. 

(PNA)

Untuk Kepentingan Pertahanan, Runway Bandara di Pekanbaru Perlu Ditambah



Pesawat F-16C/D di Skuadron Udara 16 Pekanbaru (photo : roesminnurjadin)

Riau Book - Untuk kepentingan pertahanan, panjang runway Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II/Lanud Rusmin Nurjadin perlu ditambah.

Ini dikatakan Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman saat ditemui dikantornya, Jumat (10/06/2016) terkait pertemuannya dengan Menteri Perhubungan Ignatius Jonan beberapa hari yang lalu.

"Sekarang kan ada 2 skuadron di Lanud Rusmin Nurjadin, dengan jumlah ini, untuk pesawat naik turun dibutuhkan runway sepanjang 3000 meter," kata Arsyadjuliandi Rachman.

Sekarang ini, lanjut Arsyadjuliandi Rachman, pendaratan pesawat tempur ini masih membutuhkan bantuan alat tambahan pendaratan, diharapkan dengan panjang runway 3000 meter, tidak diperlukan lagi alat tambahan ini.

Saat ini panjang runway Bandara SSK II sepanjang 2240 meter yang sudah difungsikan, sementara penambahan runway sepanjang 2600 meter sudah selesai, namun belum bisa difungsikan karna lampu dan beberapa alat yang lain belum dipindahkan dan dipasang.

(RiauBook)

Beginilah Kesaktian Su-30MKM Flanker Malaysia



Su-30MKM (Modernizirovannyi Komercheskiy Malaysia) (photo : carl brent)

Sebagai sesama pengguna Su-30 di Asia Tenggara, varian Su-30MKM (Flanker-G) yang dikembangkan khusus untuk TUDM (Tentara Udara Diraja Malaysia), memiliki spesifikasi jauh lebih jaguh (jago) dibandingkan Angkatan Udara Vietnam dan Indonesia. TUDM diuntungkan oleh India, yang bersusah payah mengintegrasikan seluruh subsistem ke dalam Su-30MKI. Su-30MKM (Modernizirovannyi Komercheskiy Malaysia = Modernisasi, Komersial pesanan Malaysia) memang dikembangkan dari basis Su-30MKI.

Dua sayap canard merupakan sayap aktif (photo : sgroader)

Dari tampilan luar, Su-30MKM menggunakan fuselage, mesin TVC AL-31FP, dan sistem kendali fly by wire yang serupa dan setara dengan milik AU India. Su-30MKM diawaki dua awak, pilot dan operator sistem senjata.

Ragam persenjataan yang dapat dibawa berupa rudal jarak menengah, sedang, dan jauh serta rudal udara ke permukaan tidak dibedakan dengan milik India, mampu menggotong seluruh sistem senjata buatan Rusia.

Sistem optronik pasif IRST (Infra Red Track and Scan) OLS-30 dan Cobham 754 buddy refueling pod. (photo : vivawariors)

Perbedaannya, sebagai negara Islam tentu haram mengadopsi teknologi negeri Yahudi. Oleh karena itu, seluruh perangkat made in Israel diminta dilepas dan dicari gantinya, barulah Malaysia mau menandatangani kontrak senilai 900 juta dolar AS untuk 18 pesawat.

Nah, varian Su-30MKM mempertahankan sistem radar dan elektro optik yang sama dengan Su-30MKI. Radar N011M sudah jadi standar, begitu juga sistem optronik pasif IRST (Infra Red Track and Scan) OLS-30 yang mampu mendeteksi sasaran di udara sejauh 90 km dari belakang, atau 50 km dari depan.

Mesin AL-31FP dengan Thrust Vector Control (TVC) (photo : korsakul)

Pilot bisa memilih pembesaran (Field of View) lebar dengan cakupan 20×5 derajat atau sempit dengan lebar 3×3 derajat. Cakupan sempit digunakan untuk membidikkan rudal BVR (Beyond Visual Range). Sistem laser range finder akurat sampai jarak 3 km untuk sasaran udara dan 5 km untuk sasaran darat.

Sistem avioniknya mengandalkan produk Perancis yang memang sudah lama punya pasar di Malaysia. HUD menggunakan sistem Thales CTH3022 wide angle holographic, begitu pula sistem IFF (Identification Friend or Foe) yang juga dibuat Thales. Sistem pod pencari sasaran dan pengarah rudal menggunakan, lagi-lagi, produk Thales yaitu Damocles targeting & NAVLIR pod. Untuk sistem komputer pada Su-30MKM tetap menggunakan sistem S101 buatan Rusia.

Sistem pod pencari sasaran dan pengarah rudal buatan Thales yaitu Damocles targeting & NAVLIR pod (photo : cmano)

Su-30MKM memiliki kekhasan dengan fokus pada sistem pertahanan yang cukup lengkap daftarnya, meliputi Saab Avitronics MAW300 Missile Warning Sensor dan LWS350 Laser Warning Sensor untuk mendeteksi sistem laser pemandu rudal antipesawat yang digunakan sistem rudal seperti Saab Bofors RBS-70. Untuk mendeteksi rudal dengan pemandu radar ada sistem RWS-50RWR. Sama seperti Su-30MKI, Su-30MKM memiliki kemampuan diisi dan mengisi bahan bakar di udara melalui Cobham 754 buddy refueling pod.

Satu sistem yang terpasang pada Su-30MKM dan tidak ada pada Su-30MKI adalah sistem pod ECM (Electronic Counter Measure) buatan perusahaan Kaluzhsky Rusia yaitu KNIRTI SAP-518 yang dipasang di ujung-ujung sayap Su-30MKM. Pod ini memungkinkan Su-30MKM melaksanakan misi SEAD (Suppression of Enemy Air Defence), dengan mengacak gelombang radar yang bermain di frekuensi G-J. Malaysia dirumorkan mengakuisisi sistem pod pengacak SAP-14, yang sampai saat ini belum terkonfirmasikan kehadirannya.

Sistem pod ECM (Electronic Counter Measure) buatan Kaluzhsky yaitu KNIRTI SAP-518 (photo : kret)

Purwarupa Su-30MKM terbang Mei 2006, dan versi produksinya setahun kemudian pada musim semi 2007. TUDM menyatakan purwarupa sudah layak produksi pada Mei 2007. Bandingkan dengan pengembangan Su-30MKI yang berlangsung selama bertahun-tahun, Malaysia jelas diuntungkan dengan inisiatif India mengembangkan varian Su-30MKI.

Seluruh pesawat pesanan sudah diterima TUDM mulai Juni 2007, dan yang terakhir pada Agustus 2009. Su-30MKM di TUDM ditempatkan di Skadron No 11 di Gong Kedak, Malaysia Barat yang merupakan salah satu pangkalan militer tertua di Malaysia bersama skadron latih PLTB3 dengan pesawat latih Pilatus PC7 Mk11.

(Angkasa)

FA-50PH Need Php 37,6 Mio for Engine Overhaul



PAF FA-50PH (photo : rappler)

PAF in the Market for FA-50PH Engine Assy Service Providers

MANILA (PNA) --- The Philippine Air Force (PAF) is allocating the sum of PHP37,602,175.63 for service providers capable of repairing and overhauling the engine assy for the use of its brand-new South Korean-made FA-50PH light-interim fighter jet aircraft.

Pre-bid conference is on Wednesday, 9:00 a.m. at the PAF Procurement Center Conference Room, Villamor Air Base, Air Force bids and awards committee chair Brig. Gen. Nicolas Parilla said.

While submission and opening of bids is on July 8, 9:00 a.m. at the same venue.

The PAF's first two FA-50PH jet aircraft arrived in the Philippines on Nov. 28, 2015. The rest remaining 10 aircraft, out of a 12-plane order from Korea Aerospace Industries (KAI) worth PHP18.9 billion, will be delivered between 2016 to 2017.

The FA-50PHs has a top speed of Mach 1.5 or one and a half times the speed of sound and is capable of being fitted air-to-air missiles, including the AIM-9 "Sidewinder" air-to-air and heat-seeking missiles aside from light automatic cannons.

It will act as the country's interim fighter until the Philippines get enough experience of operating fast jet assets and money to fund the acquisition of more capable fighter aircraft.

Korea Aerospace Industries (KAI)'s FA-50PH design is largely derived from the F-16 "Fighting Falcon", and they have many similarities: use of a single engine, speed, size, cost, and the range of weapons.

KAI's previous engineering experience in license-producing the KF-16 was a starting point for the development of the FA-50PH.

The aircraft can carry two pilots in tandem seating. The high-mounted canopy developed by Hankuk Fiber is applied with stretched acrylic, providing the pilots with good visibility, and has been tested to offer the canopy with ballistic protection against four-pound objects impacting at 400 knots.

The altitude limit is 14,600 meters (48,000 feet), and airframe is designed to last 8,000 hours of service.

There are seven internal fuel tanks with capacity of 2,655 liters (701 US gallons), five in the fuselage and two in the wings.

An additional 1,710 liters (452 US gallons) of fuel can be carried in the three external fuel tanks.

Trainer variants have a paint scheme of white and red, and aerobatic variants white, black, and yellow.

The FA-50PH uses a single General Electric F404-102 turbofan engine license-produced by Samsung Techwin, upgraded with a full authority digital engine control system jointly developed by General Electric and KAI.

The engine consists of three-staged fans, seven axial stage arrangement, and an afterburner.

Its engine produces a maximum of 78.7 kN (17,700 lbf) of thrust with afterburner. 

(PNA)

Su-30MK2 of the VPAF will be Suspended for Operation

14 Juni 2016
Su-30MK2 fighter Of Vietnam with Kh-31 missile (photo : Soha)

Lieutenant General Vo Van Tuan said the current entire Su-30MK2 aircraft of the Air Force Vietnam will be suspended all flight operations training.

Related to Su- 30MK2 aircraft lost contact this morning, talk to us, Lieutenant General Vo Van Tuan, deputy chief of the Vietnam People's Army said the entire aircraft Su-30MK2 will be suspend all flight operations training, are only allowed to take off when combat duty.

"The suspension is to evaluate the incident happened on the plane was missing", Minister Tuan said.
He also added information, after finding the plane and the pilots missing, the functional unit will proceed to clarify the causes of this incident.

Up to now, the functional forces are still actively involved in the search planes and pilots.

Defense Ministry is mobilizing forces to conduct search, check the above waters, looking forward to find the pilot and the plane. 

Lieutenant General Vo Van Tuan is also directly in Nghe An to direct the search.

For information on detecting oil slicks at sea are searching the area, Minister Tuan said, does not define exactly this.

(Soha)

Third A400M Arrived in Subang



M54-03 prepared to landing at Subang airport. (photo : Malaysian Defence)

SHAH ALAM: RMAF’s third A400M air-lifter arrived at the Subang airbase last Monday – four days after it was officially delivered to the service. The A400M – tail number M54-03 – flew some 9,100 km to get to Subang from the Airbus D&S A400M Final Assembly Line in Seville, Spain.

The ferry flight from Seville, took two days with one stop-over at the Al Bateen executive airport in Abu Dhabi. Both the previous deliveries, took the same route and stop-overs.

Unlike the arrival of 02 late last year, 03’s arrival today was rather subdued. There was no fly past over Subang and there was no escorts.

An official welcoming ceremony for the aircraft is only expected after Ramadan. It will be a good excuse to hold a Raya open house at 22nd Squadron spanking new hangar.

The prompt arrival of the RMAF third aircraft must be a welcome relief to Airbus D&S which have come under pressure due to delivery delay caused by engine and air-frame issues.

Mean-while, a PDRM Super King Air 350 fitted with the ISR fit also made a landing at the runway after what appears to be a test flight following maintenance.

(Malaysian Defence)

Pesawat Tempur Sukhoi Mengiringi Sahur



Su-30MK2 TNI AU (photo : TNI AU)

Makasar, Laras Post - Pesawat tempur Sukhoi meraung-raung di pagi buta di atas langit Lanud Sultan Hasanuddin Makassar dan sekitarnya mengiringi waktu sahur. Di pagi buta itu, para penerbang tempur Skadron Udara 11 Wing 5 Lanud Sultan Hasanuddin tak kenal lelah berlatih terbang Subuh. Latihan dilaksanakan selama dua minggu mulai tanggal 13 sampai dengan 23 Juni 2016. Para penerbang tempur Skadron Udara 11 terus menempa diri dengan melaksanakan latihan terbang sahur di wilayah udara sekitar Lanud Sultan Hasanuddin, dalam rangka menjaga kesiapan operasi. 

Sebelum melaksanakan terbang malam, diawali dengan briefing penerbangan di ruang briefing Shelter Skadron Udara 11 Wing 5. Latihan terbang malam sengaja dilakukan  untuk meningkatkan kesiapan, keahlian dan kemampuan, profesiensi guna meraih profesionalisme sebagai seorang penerbang tempur TNI Angkatan Udara yang senantiasa siap siaga. 

Latihan terbang sahur pesawat tempur Sukhoi SU-30 MK2 dan SU-27 SKM Skadron Udara 11 yang dilaksanakan secara terjadwal tersebut, selain melibatkan para teknisi dan crew dari Skadron Udara 11, juga unsur personel pendukung penerbangan seperti petugas PLLU, Meteorologi, Crashteam serta petugas pendukung lainnya dari Dinas Operasi, Dinas Logistik serta Dinas Personel, serta Kesehatan yang merupakan aplikasi dari pelaksanaan program kerja Lanud Sultan Hasanuddin.

(LarasPost)

TNI-AU Hentikan Sementara Penggunaan Helikopter Super Puma




Helikopter AS-332 Super Puma TNI AU (photo : Prily AP)

Jakarta (ANTARA News) - Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal TNI Agus Supriatna memerintahkan satuannya untuk menghentikan sementara operasional Helikopter NAS- 332 L1 Super Puma, sebagai langkah pencegahan, menanti hasil kajian dari tim Lambangja (keselamatan terbang dan kerja) Mabesau.

"Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi inciden/accident. Kasau pun memerintahkan untuk memeriksa seluruh komponen pesawat Helikopter NAS- 332 L1 Super Puma secara lengkap dan menganalisa serta mengevaluasi hasilnya," kata Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara, Marsekal Pertam TNI Wieko Syofyan, di Jakarta, Jumat.

Hal tersebut dilakukan terkait dengan beberapa kecelakaan yang terjadi pada pesawat jenis ini di berbagai negara, seperti yang terjadi di pantai Norwegia pada April lalu, yang diduga akibat masalah teknis.

Dengan alasan yang sama, kata Kadispenau, beberapa negara di Eropa juga telah menghentikan sementara operasi penerbangan yang menggunakan Helikopter Super Puma ini. Bahkan Badan Keamanan Udara Eropa EASA telah melarang terbang Helikopter Airbus Super Puma setelah adanya kecelakaan yang terjadi di Norwegia baru-baru ini.

Helikopter jenis NAS 332 L1 Super Puma buatan Eurocopter Perancis tahun pembuatan 1998 ini mulai digunakan oleh Angkatan Udara pada tahun 2002 untuk memperkuat Skadron Udara 6 Lanud Atang Sendjaja Bogor dan Skadron Udara 45 VVIP Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta.

(Antara)